Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat , Lumbung Mataram sebagai Icon Unggulan di Kalurahan Bendung - Warta Jogja

Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat , Lumbung Mataram sebagai Icon Unggulan di Kalurahan Bendung

81 0

Wartajogja.co.id || Gunungkidul — Kalurahan Bendung, yang terletak di Kapanewon Semin, Gunungkidul, Daerah Istimewa  Yogyakarta tampil sebagai kekuatan utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal melalui program unggulan, Lumbung Mataraman. Belum lama ini, program Lumbung Mataraman diresmikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kegiatan ini menandai tonggak penting dalam upaya pemerintah DIY meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ketahanan pangan. (18/09/23)

 

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong konversi lahan kas desa, menjadi lahan pertanian produktif. Berkat tekad dan semangat komunitas lokal, program Lumbung Mataraman telah berhasil mengintegrasikan kegiatan pertanian dengan pariwisata edukasi pertanian. Di Gunungkidul  konsep pertanian dan wisata edukasi pertanian ini berhasil dikembangkan di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin. Pembangunan kawasan pertanian terintegrasi ini dibiayai melalui dana keistimewaan. Memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) seluas 1,5 hektar, Lumbung Mataraman Bendung, Semin, dibangun meliputi agrowisata dan wahana edukasi pertanian serta peternakan. Jenis tanaman yang ditanam juga berbeda-beda sesuai dengan jadwal tanam yang telah ditetapkan.

Lurah Bendung, Kapanewon Semin, Didik Rubiyanto, menyatakan, Lumbung Mataraman di wilayah ini memiliki konsep kalurahan mandiri dalam hal pangan dan perekonomian masyarakat.

 

“Kami berharap menjadi desa di mana masyarakat kami memiliki kemampuan untuk mencapai ketahanan pangan dan gizi dengan memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ungkap Didik.

 

Tahapan untuk mencapai status desa mandiri dalam hal pangan dan kawasan agro-edukasi tentu saja tidak mudah. Dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM), semangat, komitmen, dukungan, anggaran, dan sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

Berkat kerja sama yang kuat dari warga, kawasan ini sekarang telah terintegrasi dengan destinasi wisata, yaitu Agroeduwisata. Konsep pertanian terpadu ini juga diterapkan secara menyeluruh.

 

“Potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah kami identifikasi. Terutama dalam hal kuliner khas kami,” tambah Didik.

 

 Lahan pekarangan yang sebelumnya terbatas telah diubah menjadi lahan multi-guna yang menghasilkan berbagai macam bahan pangan, termasuk umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, tanaman rempah-rempah, tanaman obat, dan hewan ternak. Proyek ini dijalankan oleh 10 kelompok Wanita Tani (KWT). Manfaat dari pengelolaan pekarangan ini sangat nyata, baik dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, maupun memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

 

“Warga kami merasakan peningkatan pendapatan dari Lumbung Mataraman ini,” tambah Didik.

 

Tidak hanya fokus pada tanaman hortikultura, program ini juga mengoptimalkan pengembangan peternakan domba. Didik juga menjelaskan bahwa konsep agro-edukasi wisata pertanian telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat. Ini menciptakan daya tarik khusus dalam bidang pertanian dengan pendekatan pertanian terpadu. Daya tarik ini juga didukung oleh berbagai potensi lainnya, termasuk UMKM, souvenir, adat istiadat, budaya, sehingga kawasan ini telah menjadi pusat wahana edukasi wisata pertanian.

 

Lokasinya sangat strategis untuk pengembangan destinasi minat khusus di sektor utara. Pengelolaan ini diberi nama Desa Wisata Bendung “Among Kisma,” yang berarti bersama dengan kalurahan untuk membantu meningkatkan kemakmuran masyarakat melalui sektor pariwisata dengan tujuan bersama-sama mengarahkan sektor pariwisata menuju kesejahteraan seluruh masyarakat Kalurahan Bendung. Wisata dan aktivitasnya berfokus pada lahan pertanian. Wisata ini melibatkan langsung wisatawan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pertanian, peternakan hingga perkebunan. Kerja keras dan semangat masyarakat membuahkan hasil. Prestasi gemilang diraih oleh Kalurahan  Bendung dalam Lomba Desa Wisata tingkat Provinsi yang digelar baru-baru ini. Dengan pesona alam yang memukau dan kekayaan budaya yang melimpah, Desa Wista Bendung berhasil meraih posisi prestisius sebagai Juara II.

 

Kalurahan Bendung mengundang wisatawan untuk merasakan pesonanya yang tak ternilai. Dikelilingi oleh pemandangan alam yang menakjubkan, dengan aliran sungai yang membelah perbukitan hijau, Desa Bendung menghadirkan ketenangan dan keindahan yang begitu autentik. Tak hanya itu, kekayaan budaya dan tradisi masyarakatnya juga menjadi daya tarik utama. Wisatawan dapat merasakan kehangatan dalam keramahan penduduk setempat serta menikmati kesenian dan kuliner khas yang tak akan terlupakan. Kemenangan Kalurahan Bendung sebagai Juara II dalam Lomba Desa Wisata tingkat Provinsi tidak hanya membanggakan tetapi juga memberikan manfaat nyata. Hadiah sebesar Rp 45.000.000 yang diterima oleh desa ini akan digunakan untuk pengembangan lebih lanjut, termasuk pembenahan infrastruktur, promosi yang lebih intensif, serta pelatihan bagi warganya agar mereka semakin siap menyambut para wisatawan dengan senyuman dan pengetahuan yang lebih mendalam. Kemenangan ini hanya merupakan awal dari perjalanan panjang Kalurahan Bendung menuju puncak kejayaan dalam dunia pariwisata. Dengan semangat yang membara dan komitmen untuk terus berkembang, Kalurahan Bendung berjanji untuk terus meningkatkan fasilitas, layanan, dan pengalaman wisata yang tak terlupakan.

 

Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengatakan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai memfokuskan pembangunan di wilayah utara Gunungkidul. Hal itu agar pembangunan di Gunungkidul dapat merata dan tidak hanya berkutat di wilayah tengah dan selatan saja. Rencana intervensi terhadap pembangunan di wilayah utara sudah dikomunikasikan dengan Gubernur. Rencananya, mulai tahun 2024 mendatang Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan mulai melakukan intervensi pembangunan.

 

“Nanti salah satunya akan menggunakan Dana Keistimewaan. Agar pembangunan merata tidak hanya dilakukan di wilayah selatan dan tengah tapi bisa berkembang bersama tanpa ada kesenjangan,” kata Sunaryanta.

 

Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi serta karakter masing-masing salah satunya Kalurahan Bendung, Semin ini. Sehingga pengelolaannya pun juga berbeda dalam melakukan perencanaan penting untuk menyesuaikan dengan potensi dan karakter daerah. Pembangunan baik infrastruktur dan SDM dapat setara dengan zona tengah maupun selatan.

 

Red ( Whyoe )



Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *