Inspiratif! Rumah Makan Ini Ajak Pengunjungnya Makan Sambil Belajar Budaya Jawa - Warta Jogja

Inspiratif! Rumah Makan Ini Ajak Pengunjungnya Makan Sambil Belajar Budaya Jawa

775 0
Bagikan

WARTAJOGJA.CO.ID || SLEMAN — Belajar bisa di mana saja. Tak terkecuali saat berwisata kuliner. Inilah konsep yang coba dibawakan “Bale Reren”, rumah makan bernuansa jawa di Sawah Salakan, Jalan Sidorejo-Salakan, Selomartani, Kalasan, Sleman yang resmi dibuka pada Sabtu (04/09) kemarin dengan tetap mentaati protokol kesehatan ( Prokes ). (05/09/21)

Restoran ini merupakan karya dari Prof. Sutrisna Wibawa. Dikenal luas masyarakat sebagai Rektor Milenial, sosok yang telah purna tugas dan kini mengajar sebagai Guru Besar di Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ini ingin pendidikan dapat tersebarluaskan lewat berbagai media dan sarana.

“ Rumah Makan ini, saya konsep menjadi sarana untuk makan sambil belajar kebudayaan Jawa. Mulai dari filosofi dan suasana, arsitektur bangunan, jenis kuliner, fasilitas digital, hingga perpustakaan kami sediakan di rumah makan ini. Harapannya ketika pulang, para pengunjung tidak hanya membawa rasa kenyang, tapi juga ilmu dan inspirasi,” ungkap Sutrisna dalam Talkshow Pembukaan Rumah Makan bersama Komunitas SEVIMA, Sabtu (04/09) pagi.

Pelajaran budaya Jawa, lanjut Sutrisna, sudah dapat dipetik masyarakat ketika menginjakkan kaki di pintu masuk restoran. Para pengunjung akan disuguhkan dengan artefak-artefak Jawa. Diiringi dengan kesejukan rumah makan yang berada di pinggir sawah dengan view pemandangan menghadap ke Gunung Merapi, belajar budaya Jawa sembari menyantap hidangan dikondisikan senyaman mungkin.

“ Kesejukan dan artefak Jawa yang kami tampilkan, melambangkan filosofi yang sekaligus menjadi nama rumah makan ini: Bale Reren. Bale artinya Balai, tempat berkumpul dan bercengkrama, dan Reren artinya beristirahat, leyeh-leyeh. Sudah menjadi budaya jawa ketika berkumpul dan beristirahat, tali silaturahim terjalin, pengetahuan bertambah,” ungkap Sutrisna.

Arsitektur rumah makan juga sangat kenal budaya Jawa. Tidak seperti rumah makan bernuansa Jawa pada umumnya yang menggunakan Joglo, Sutrisna memilih Gazebo dan model limasan untuk rumah makan.

Baca juga :PMII UMY Gelar Pelantikan dan Dialog Kebangsaan di Gedung PWNU DIY

Alasannya, jika menilik sejarah, joglo justru bangunan yang disakralkan. Namun menjadi jamak digunakan dalam bangunan jawa karena dianggap mudah untuk menyimbolkan nuansa kejawaan. “Bangunan limasan ini, sambil makan, sambil kita akan kenalkan kepada masyarakat.

Pelajaran selanjutnya, bisa dipetik dari fasilitas digital hingga perpustakaan. Rumah makan ini menyediakan banyak bacaan bernuansa Jawa yang bisa dinikmati segenap pengunjung. “Wifinya juga kami sediakan kencang, mahasiswa dan pekerja bisa memanfaatkan,” lanjut Sutrisna.

Red ( Whyoe )

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *